Senin, 20 Juni 2011

Makalah Dinasti Abbasiyah

BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELKANG
Dinasti Abbasiyah yang memerintah setelah Dinasti Umayyah adalah dinasti terlama dalam sejarah peradaban Islam – sekitar lebih dari 5(lima) abad- juga dinasti yang mengantarkan Islam pada masa golden age nya. Namun demikian, tidaklah dapat dipungkiri bahwa pemerintahan Abbasiyah merupakan pemerintahan yang kompleks sekompleks permasalahan politik yang melandanya. Permasalahan politik yang dimaksud adalah terjadinya kudeta, pemberontakan bahkan pembentukan dinasti- dinasti baru. Awalnya, Abbasiyah merupakan pemimpin tunggal didaerah Asia, sedangkan di Eropa dibawah kepemimpinan Umayyah- Andalus, dan Mesir dibawah kepemimpinan Fatimiyah[1]. Pembahasan ini mencoba untuk memahami perkembangan islam masa dinasti Abbasiyah. Yang mana penyebab keruntuhan Bani Abbasiyah adalah faktor internal, dan ini adalah penunjang paling ekstrim dibandingkan dengan faktor eksternal[2].
2. Rumusan Masalah
1. Apa yang mempengaruhi runtuhnya atau hancurnya daulah bani abbasiyah ?
2. Tujuan Masalah
1. Agar mahasiswa/I memahami tentang Daulah Bani Abbasiyah ?
2. Agar mahasiswa/I mengetahui apa saja yang mempengaruhi kemunduran atau keruntuhannya Bani Abbasiyah ?
BAB II
DAULAH BANI ABBASIYAH
Berdirinya Abbasiyah
Kekuasaan dinasti bani abbas, atau khilafah abbasiyah, sebagaimana disebutkan melanjutkan kekuasaan dinasti bani umayyah. Dinamakan khilafah abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan al- abbas paman nabi Muhammad saw.
Babak ketiga dalam drama besar politik islam dibuka dengan peran penting yang dimainkan oleh khalifah abu al abbas (750-754). Irak menjadi panggung drama terbesar itu. Dalam khutbah penobatannya, yang disampaikan setahun sebelumnya di masjid kufah, khalifah bbasiyah pertama itu menyebut dirinya sl-suffah, penumpah darah, yang kemudian menjadi julukannya. Julukan itu merupakan pertanda buruk, karena dinasti yang baru muncul ini mengisyaratkan bahwa mereka lebih mengutamakan kekuatan dalam menjalankan kebijakannya.[3]
Ketika berhasil merebut kekuasaan, orang Abbasiyah mengklaim dirinya sebagai pengusung konsep sejati kekhalifahan, yaitu gagasan Negara teokrasi, yang menggantikan pemerintah sekuler (Mulk) Dinasti Umayyah.
Kesuksesan Abbasiyah meraih kursi kekhalifahan dikarenakan kepiawaian mereka dalam melihat situasi dan kondisi yang ada. Abbasiyah berhasil mengumpulkan pendukung dari berbagai kalangan yang mayoritas merasa “ tersakiti” oleh kebijakan Umayyah, baik bernuansa keagamaan- Syiah- atau dari kelompok Mawali yang merasa ditekan dengan adanya pungutan pajak.[4]
Dinamika Intelektual
Kemenangan tentara Islam pada masa Al- Mahdi dan Al- Rasyid atas orang Bizantium, musuh lama Islam, memang telah membuat tenar periode itu. Begitu pula kehidupan mewah yang menjadi tren pada masa itu, juga dikenal dalam sejarah dan fiksi, tapi yang membuat periode itu sangat terkenal adalah kemunculan gerakan Intelektual dalam sejarah Islam, sehingga dikenal sebagai kebangkitan terkenal dalam seluruh sejarah pemikiran dan budaya.[5]
Perkembangan intelektual masa Abbasiyah terlihat dengan jelas dengan terbentuknya jaringan keilmuan yang kuat terutama yang berhubungan dengan dua sumber Agama, Al- Qur’an dan Hadits, dan semuanya itu juga tidak luput dari adanya gesekan dengan peradaban lainnya seperti Yunani, India, dan Mesir.
Factor Kemunduran Dinasti Abbasiyah
Berakhirnya kekuasaan dinasti saljuk atas bagdad ataukhilafah abbasiyah merupaka awal dari periode kelima. Pada periode ini, khilafah abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan sesuatu dinasti tertentu, walaupun banyak dinasti islam berdiri. Ada diantaranya cukup besar, namun yang terbanyak adalah dinasti kecil. Para khalifah abbasiyah, sudah merdeka dan berkuasa kembali, tetapi hanya di bagdad dan sekitarnya.
Disamping kelemahan khilafah, banyak factor lain yang menyebabkan khilafah abbasiyah menjadi mundur, masing- masing factor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Beberapa diantaranya :
1. Persaingan antar bangsa
Pembahasan mengenai kemunduran pastilah dilihat dari 2 aspek yaitu eksternal dan internal. Faktor internal keruntuhan atau kemunduran Abbasiyah, jika ada sesuatu yang bisa menandingi kecepatan luar biasa para putra gurun arab dalam menaklukkan sebagian besar dunia beradab pada pertama hijriyah, maka sesuatu itu adalah kemerosotan derastis kekuasaan anak cucu mereka antara pertengahan abad ketiga dan pertengahan abad keempat.
Adapun factor internal yang dapat menjadi penyebab kemunduran Abbasiyah sebagai pusat pemerintahan menurut Akbar S Ahmed ada dalam bukunya Citra Muslim adalah sebagai berikut:
1. Roda pemerintahan dijalankan dengan system keluarga.
2. Tidak menerapkan syariah, dalam artian mereka tidak lagi mengindahkan syariat tentang kehidupan berfoya-foya dan lainnya.
3. Adanya system komunikasi yang buruk sehingga tidak mampu mencakup wilayah yang luas.
4. Administrasi keuangan yang kacau balau dikarenakan amanat baitul mal disepelekan.[6]
Sedangkan factor internal kelemahan atau kemunduran umat Islam menurut Ahmad Syalabi dalam bukunya Masyakaat Islam adalah sebagai berikut :
1. Faktor politis sebagai akibat dari banyaknya aliran dalam islam seperti Bani Hasyim dan lainnya. Dengan kata lain semangat Ashabiyah muncul kembali.
2. Faktor Agama baik berkaitan dengan posisi Agama dan Negara atau adanya pertentangan antara akal dan wahyu yang itu semua terkejawantahkan dengan munculnya aliran keagamaan juga.[7]
Faktor internal lebih banyak berperan sebagai sebab kehancuran kekholifahan dari pada factor external.Kemungkinan terjadinya terjadinya desentralisasi dan pembagian kekuasaan di daerah-daerah selalu mengiringi setiap penaklukan yang dilakukan tergesah-gesah dan tidak usai.Metode administrasinya yang diterapkannya pun tidak kondusif bagi penciptaan stabilaitas Negara.
Adapun factor external kemunduran abbasiyah setidaknya disebabkan oleh 2 serangan dari luar yaitu perang salib dan serbuan tentara mongol.
Kemunduran abbsiyah oleh Syeh Muhammad Al khudri, setidaknya disebabkan oleh:
1. Semakin lemahnya tenaga pembela (Ashabiyah) yang mengawal dan mempertahankannya.
2. Persaingan perebutan yang tidak berhenti antara Abbasiyah dengan Alawiyah.
3. Jatuhnya nilai-nilai amanat dalam segala bentuknya.
Poin-poin kemunduran dinasti Abbasiyah di atas setidaknya mempunyai kesamaan namun yang perlu dipahami bahwa kemunduran islam dalam suatu dinasti lebih banyak didahului oleh factor internal seperti yang pernah diperingatkan Nabi bahwa umat islam tidak dapat dikalahkan oleh musuh kecuali kalau seama mereka berselisih lalu mengundang musuh luar ke dalam rumah tangga meraka untuk menghancurkan saudara seagamanya yang berlainan aliran[8]. Exploitasi dan pjak berlebihan menjadi kebijakan favorit yang dibebankan kepada semua rakyat, tak terkecuali.
Akibatnya, muncul disintegrasi antara kekuatan-kekuatan social dan kelompok-kelompok moral. Seiring lintasan zaman, darah penaklul telah bercampur dengan darah taklukan, disertai hilangnya kualitas dan posisi dominan yang mereka miliki. Meniringi hancurnya kehidupan bangsa arab, hancur pula stamina dan semangat juang meraka. Perlahan-lahan imperium mereka dikuasai oleh bangsa yang dulu merka taklukkan.
Selain factor-faktor di taas, factor ekonomi tidak bisa diabaikan. Pembebanan pajak dan pengaturan wilayah-wilayah provinsi demi keuntungan kelas penguasa telah menghancurkan bidang pertanan dan industry. Ketika para penguasa semakin kaya rakyat semakin miskin. Kehancuran ekonomi nasional tentu saja berakibat langsung pada turunnya tingkat intelektualitas masyarakat dan menekang tumbuhnya pemikiran kreatif[9].
1. Persaingan antar bangsa
Khilafah Abbasiyah didirikan oleh bani Abbas yang bersekutu dengan orang – orang Persia.Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib padsa masa bani umayyah. Wilayah Abbasiyah pada periode pertama sangat luas meliputi berbagai bangsa yang berbeda .Mereka semua disatukan dengan bangsa semit.Kecuali islam pada waktu itu tidak ada kesadsaran yang merajut elemen – elemen yang bermacam – macam tersebut dengan kuat[10] akibatnya disamping fanstisme kearaban muncul juga fanatisme – fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu’ubiyah.
Fanatisme kebangsaan ini nampaknya dibiarkan berkembang oleh penguasa. Sementara itu, para khalifah menjalankan sistem perbudakaan baru. Budak-budak bangsa Persia atau Turki dijadikan pegawai atau tentara. Mereka diberi nasab dinasti dan mendapat gaji. Oleh Bani Abas, mereka dianggap sebagai hamba. Sistem perbudakan ini telah mempertimbangi pengaruh bangsa Persia dan Turki. Karenajumlah dan kekuatan mereka yang besar, mereka merasa bahwa Negara adalah milik mereka; mereka mempuyai kekuasaan atas rakyat berdasarkan kekuasaan khalifah.
Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyah berdiri. Akan tetapi, karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan keuatan, stabilis politik dapat terjaga. Setelah al-Mutawakkil, seorang khalifah yang lemah, naik tahta, dominasi tentara Turki tak terbendung lagi. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih, bangsa Persia, pada periode ketiga, dan selanjutnya beralih kepada dinasti Seljuk pada periode keempat, sebagaimana diuraikan terdahulu[11].
2. Kemerosotan Ekonomi
Khalifah Abbasiyah juga mengalami kemunduran dibidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Bait al-Mal penuh dengan harta[12]. Pertambahan dana yang besar diperoleh antara lain dari al-kharaj, semacam bajak hasil bumi.
Setelah khalifah memasuki periode kemunduran,pendapatan Negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunnya pendapatan Negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat, diperingannya pajak, dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah, jenis pengeluaran makin beragam, dan para pejabat melakukan korupsi.
Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian Negara morat-marit. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah kedua factor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan.[13]
3. Konflik Keagamaan
Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai, kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme, Zoroasterisme, dan Mazdakisme. Munculnya gerakan yang dukenal dengan gerakan Zindiq ini menggoda rasa keimanan para khalifah. Al-Manshur berusaha keras memberantasnya. Al-Mahdi bahkan merasa perlu mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi kegiatan orang-orang Zindiq dan melakukan mihnah dengan tujuan memberantas bidah. Akan tetapi, semua itu tidak menghentikan kegiatan mereka. Konflik antara kaum beriman dengan golongan Zindiq berlajut mulai dari bentuk yang sangat sederhana seperti polemic tentang ajaran, sampai pada koflik bersenjata yang menumpahkan darah dikedua belah pihak. Gerakan al-Afsyin dan Qaramithah adalah contoh konflik bersenjata itu.
Pada saat gerakan ini mulai tersudut, pendukungnya banyak berlindung dibalik ajaran Syi’ah , sehingga banyak aliran Syi’ah yang dipandang ghulat (ekstrim) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi’ah sendiri. Aliran Syi’ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah. Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Al-Mutwakkil, misalnya, memerintahkan agar makam Husein di Karbela dihancurkan. Namun anaknya, al-Muntashir (861-862 M.), Kembali memperkenankan orang Syi’ah menziarahi makam Husein tersebut. Syi’ah pernah berkuasa didalam khilafah Abbasiyah melalui Bani buwaih lebih dari seratus tahun. Dinasti Idrisiyah di Marokko dan khilafah Fathimiyah di Mesir adalah dua dinasti Syi’ah yang memerdekakan diri dari Baghdad yang Sunni.
Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas padsa konflik antara muslim sdan zinsdiq dan Ahlisunnah dengan Syi’ah saja, tetapi juga antara aliran dalam islam Mu’tazilah yang canderung nasional dituduh sebagai pembuat bidah oleh golongan salaf. Perselisihan antara dua golongan ini dipertajam oleh al-Ma’mun, khalifah ketujuh dinasti Abbasiyah (813-833 M.), dengan menjadikan mu’tazilah sebagai mazhab rewsmi Negara dsan mewlakukan mihnah. Pada masa al-Mutawakkil (847-861), aliran mu’tazilah dibatalkan sebagai aliran Negara dan golongan salaf kembali naik daun. Tidak tolerannya pengikut Hambali itu (salaf) terhadap Mu’tazilah yang rasional telah menyempitkan horizon intelektual.
Aliran Mu’tazilah bangkit kembali pada masa dinasti Buwaih. Namun pada masa dinasti Seljuk yang menganut aliran Asy’ariyyah, penyingkiran golongan Mu’tazilah mulai dilakukan secara sistematis. Dengan didukung penguasa aliran Asy’ariyyah tumbuh subur dan berjaya. Pikiran-pikiran al-Ghazali yang mendukung aliran ini menjadi ciri utama paham ahlisunnah. Pemikiran-pemikiran tersebut mempunyai efek yang tidak menguntungkan bagi pengembangan kreativitas intelektual islam, konon sampai sekarang.
Berkenaan dengan konflik keagamaan itu, Syed Ameer Ali mengatakan:
“Agama Muhammasd saw seperti juga agama Isa as., terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia. Soal kehendak bebas manusia telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam.Pensdapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah menjasdi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”.
4. Ancaman Dari Luar
Apa yang disebutkan diatas adalah factor-faktor internal. Disamping itu, ada pula factor –faktor eksternal yang menyebabkan khilafah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. Pertama, Perang Salib yang berlangsung beberapa glombang atau periode dan menelan banyak korban. Kedua serangan tentara Mongol kewilayah kekuasaan Islam. Sebagaimana telah disebutkan oranng-orang kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M.) mengeluarkan fatwanya. Perang Salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang kristen yang berada diwilayah kekuasaan Islam. Namun, diantara komunitas – komunitas kristen timur, hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan Perang Salib dan melibatkan diri dalam tentara Salib itu.[14]
Pengaruh Salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara mongol. disebutkan bahwa Hulagu Khan, panglima tentara Mongol,sangat membenci Islam karena ia banyak dipengruhi oleh orang – orang Budha dan Kristen Nestorian. Gereja – gereja Kristen berasosiasi dengan orang –orang Mongol yang anti Islam itu dan diperkeras dikantong –kantong ahl al-kitab. Tentara Mongol, setelah menghancur leburkan pusat –pusat Islam, ikut memperbaiki Yerusalem.
BAB III
KESIMPULAN
factor internal yang dapat menjadi penyebab kemunduran Abbasiyah sebagai pusat pemerintahan sebagai berikut:
Roda pemerintahan dijalankan dengan system keluarga. Tidak menerapkan syariah, dalam artian mereka tidak lagi mengindahkan syariat tentang kehidupan berfoya-foya dan lainnya. Adanya system komunikasi yang buruk sehingga tidak mampu mencakup wilayah yang luas. Administrasi keuangan yang kacau balau dikarenakan amanat baitul mal disepelekan.
Dan adapun yang lainnya seperti halnya persaingan antar bangsa, kemerosotan ekonomi, konflik keagamaan, ancaman dari luar.
Daftar Pustaka
Yatim, badri, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta, 2000. PT Raja Grafindo Persada, cetakan Ke sebelas).
Hitti K philip, History of the Arabs, (Jakarta, 2008. PT. Serambi Ilmu Semesta, cetakan pertama).
Abu bakar, istianah, Sejarah Peradaban Islam, (malang, 2008. UIN- Malang Prees, cetakan pertama).
Majdid, nur kholis, Khazanah Intelektual Islam, (Jakarta, 1984. Bulan Bintang).
Ahmed, S Akbar, Citra Muslim, (Jakarta, 1992. Erlangga).


[1] Istianah Abu Bakar, M.Ag, Sejarah Peradaban Islam, (UIN malang press) cet. 1, hal. 63
[2] Philip K. Hitti, History of the Arabs, PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta , hal.616
[3] Ibid, 358
[4] Ibid, 82
[5] Ibid, 381
[6] Akbar S Ahmed, Citra Muslim, (Jakarta: erlangga, 1992), hal.61
[7] Ibid, 84
[8] Ibid, 85
[9] Ibid, 618
[10]philip K Hitti op.eit hlm 485
[11] Dr. Badri Yatim .M.A sejarah peradaban islam. Hal. 82
[12] Ibid, hal. 42
[13] Ibid, hal. 82
[14] Nur kholis majdid, Khazanah Intelektual Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984). Hal. 325

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar